Judul buku : HELLO
Penulis : Tere Liye
Penerbit : SABAKGRIP
Tahun terbit : 10 April 2023
Tebal halaman : 320 lembar
ISBN : 978-623-88296-8-2
Alasan saya membaca buku HELLO karena setiap hari kamis Bu Amel meminta kami untuk literasi cerpen/novel. Lalu saya mencari novel yang covernya menarik, alhasil saya membeli dan membaca novel yang berjudul HELLO. Ddan setelah saya baca, ternyata isinya juga jauh lebih menarik.
Buku ini merupakan karya Tere Liye, Penulis yang telah melahirkan puluhan karya ini dikenal karena permainan diksinya yang mendayu-dayu. Sejak novelnya debut, Hafalan Shalat Delisa di tahun 2005 diangkat ke layar lebar, nama Tere Liye pun makin dikenal oleh public, Kini penulis bernama asli Darwis itu masuk jajaran penulis best seller di Indonesia dan tetap konsisten menerbitkan karya. Namun, siapa sangka Darwis yang lahir pada 21 Mei 1979 ini ternyata bekerja sebagai akuntan sebelum akhirnya terjun ke dunia sastra.
Tere Liye telah meraih banyak penghargaan lewa novel-novel yang ditulisnya, antara lain:
- Tahun 2016 penghargaan IKAPI Award kategori Penulis tahun ini nominasi Tere Liye, hasil menang.
- Tahun 2016 penghargaan Islamic Book Award kategori Buku Islami Terbaik Fiksi Dewasa nominasi Rindu, hasi menang.
- Tahun 2017 penghargaan Islamic Book Award kategori Buku Islami Terbaik Fiksi Dewasa nominasi Tentang Kamu, hasil menang
Berkisah tentang seorang arsitek hebat yang keahliannya sudah diakui banyak orang bernama Ana. Bicara soal bakat, Ana memang memiliki antusias cukup tinggi soal merancang bangunan seperti kuliah yang ia tempuh sejak tiga tahun lalu hingga hari ini. Sejak kecil, ia lebih memilih untuk bermain sambil berkarya. Ya, ketika anak kecil seusianya menyukai boneka, Ana malah gemar menyusun kotak-kotak hingga membuat mahakarya dari tumpukan pasir. Kini, di usianya yang menginjak 24 tahun, Ana sudah bukan lagi pekerja bangunan kelas bawah. Ia sudah memiliki banyak klien, puluhan tukang dan empat staff di kantornya.
Ia diminta untuk merenovasi sebuah rumah tua. Rumah itu ternyata milik Ibu Hesty. Selama proses persiapan renovasi, Ana ternyata menemukan sepotong kisah yang entah bagaimana tertinggal di tiap sudut rumah itu. Kisahnya pun bergulir dengan membingkai cerita cinta di tengah kota Jakarta, tepatnya di rumah mewah milik ayah Ibu Hesty yang berasal dari keturunan ningrat.
Kisah penuh warna dalam novel Hello ini bermula di tahun 1975 silam. Hesty dan Tigor. Keduanya lahir ke dunia di detik yang hampir bersamaan. Tinggal dalam satu lingkungan yang sama, tetapi dengan ‘kasta’ dan tingkat sosial yang sama sekali berbeda. Orang tua Tigor adalah pembantu dan sopir untuk keluarga Hesty. Hidup keduanya bagaikan langit dan bumi. Hesty mendapatkan segalanya yang terbaik, mulai dari pendidikan sampai makanan, sedangkan Tigor hidup sederhana di bangunan tambahan di belakang rumah mewah Hesty yang khusus diperuntukkan untuk tempat tinggal pembantu.
Kehadiran Tigor dalam hidup Hesty sejak kecil membuat hidup Hesty juga jauh berbeda dengan kedua kakaknya. Sejak SD, Tigor dan Hesty selalu bermain hingga membuat ulah sendiri. Keliling pasar, bermain layangan, memanjat pagar hingga dituduh mencuri mangga pun sudah mereka rasakan. Tak seperti Rita dan Laras yang begitu ambis dengan pendidikan dan karir mereka. Kedua kakaknya tak mengenal jam bermain bahkan jam berbuat ulah sejak kecil. Akankah Hesty bisa bermain dengan tigor tanpa perbedaan kasta oleh ayahnya?
- Kelebihan dan kekurangan dalam cerita ini:
- Kelebihan:
Buku ini mempunyai cover yang sederhana namun menarik, ceritanya ga bertele-tele
- Kekurangan:
Ada beberapa kata yang harus di cari di KBBI, ceritanya kadang suka bingung arahnya
- Gaya Bahasa:
Buku ini memakai Bahasa santai dalam ceritanya, contohnya:
‘‘Bye, Mama Papa’’
‘‘Ayo, Tigor. Kamu bantu aku mencarinya’’
- Unsur intrinsik:
- Tokoh:
- Tigor: Protagonis
- Hesty: Protagonis
- Rita: Protagonis
- Laras: Protagonis
- Ibu Ida: Protagonis
- Mang Deni: Protagonis
- Raden Wijaya: Antagonis
- Patrisia: Protagonis
- Tema: Fiksi, Romantis, Perjuangan hidup
- Alur: Maju-mundur
- Latar: Rumah dengan pohon palem
- Amanat: Jangan menyerah sebelum kamu mendapatkan apa yang kamu mau
- Sudut pandang: Orang ketiga
Saya merekomendasikan novel ini untuk kalangan remaja diatas 12 tahun untuk membacanya, karena ada beberapa kata yang agak sulit dipahami.
Diulas oleh Mahya Hanifa, 7D
