Rindu “Apalah Arti Memiliki ?”

Judul                      : Rindu

Penulis                   : Tere liye

Penerbit                 : Republika

Tahun terbit          : 2014

Tebal halaman      : 544 halaman

ISBN                       : 978- 602-89997-90-4


Apakah arti memiliki ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami? Apalah arti kehilangan ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan? Apalan arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak. Menuntut apapun ?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang kenginan melupakan saat kami rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja? Ini adalah kisan tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya di sayangi, tentang kehilangan kekasih hati, tentang cinta sejati, tentung kemunafikan, lima kisah dalam sebuan perjalanan panjang kerinduan

Kutipan itu saya ambil dari sampul belakang novel Rindu, novel karya Tere Liye yang baru saja saya pinjam dari guru saya. Saya hanya membutuhkan kurang lebih tiga bulan, alasan saya membaca buku kurang lebih tiga bulan karena saya hanya membaca dan memahami tidak mecari tahu sesuatu yang ada di buku, tapi pada suatu hari  saya sangat penasaran dengan besar dan panjangnya kapal Blittar Holland, itu kali pertama saya mencari tahu tentang novel Rindu karya Tere Liye. Sekarang kita akan membahas keistimewaan buku. Penulis dari buku Rindu ini ada penulis novel kebangsaan Indonesia yang banyak dari karyanya merupakan National Best Seller. Rindu merupakan buku ke-20 karya penulis yang memiliki nama asli Darwis, yang lahir di tahun 1979 pada tanggal 21 Mei. Tere Liye tidak berminat kepada hal-hal yang menurut dia tidak terlalu penting seperti workshop, seminar, dan hal sejenisnya, yang ia suka hanya menulis. Total dari novel yang ia tulis kini mencapai 30 buku, dimulai dari tahun 2005. Buku debutnya berjudul “Hafalan Shalat Delisa”


Novel Rindu karangan Tere Liye ini menceritakan tentang perjalanan panjang sebuah kerinduan, yaitu di atas sebuah kapal besar yang melakukan perjalanan haji selama 9 bulan. Pada tanggal 1 Desember 1938 pertama kalinya dalam sejarah kota Makassar disinggahi oleh sebuah kapal yang sangat besar pada zamannya. Sebuah kisah perjalanan yang menimbulkan beban hati. Mulai dari Daeng Andipati pengusaha muda Makassar yang berencana memulai perjalanan panjang bersama istri dan dua anaknya, Elsa dan Anna. Lalu ada Gurutta (Ahmad Karaeng), mereka begitu bahagia (kelihatannya) tapi dalam perjalanan panjang terkuak pertanyaan-pertanyaan.

Namun tidak dengan Ambo Uleng, mantan pelaut yang menjadi kelasi di kapal Blitar Holland, terlihat diam dan tak banyak bicara. Ambo Uleng melakukan perjalanan ini bukan untuk ke suatu tujuan, namun untuk pergi menghilang dari kota asalnya meninggalkan masa lalu yang menyesakkan. 

Karena perjalanan ini juga melibatkan anak-anak, Gurutta memberikan ide agar selama perjalanan anak-anak tetap bisa bersekolah dan mengaji. Maka datanglah tokoh Bonda Upe yang bersedia untuk mengajari anak-anak mengaji tiap sore harinya. Kemudian hadirlah tokoh Bapak Mangoenkoesoemo dan Bapak Soeryaningrat, dua tokoh pendidikan di Surabaya. Mereka yang akan bergantian mengajari anak-anak di sekolah kapal. Tokoh Mbah Kakung Slamet dan Mbah Putri Slamet hadir saat berlabuh diBatavia. Kedua tokoh ini yang meramaikan suasana perjalanan di kapal sebagai teman becanda Elsa dan Anna. Perjalanan kapal Blitar Holland merupakan perjalanan yang tak biasa, perjalanan panjang menuju tempat suci Mekkah, perjalanan lima tokoh dalam novel ini yang merindukan untuk mendapatkan suatu kedamaian di dalam hati masing masing. Masing-masing dari mereka membawa beban berat karena pertanyaan pertanyaan di masa lalu yang belum terjawab. Terdapat 5 pertanyaan mengenai tentang apakah haji seorang cabo dapat diterima oleh Allah? Apakah haji seseorang dapat diterima dengan membawa kebencian? Apa yang harus dilakukan jika orang itu bukan jodoh kita? Mengikhlasan kepergian orang yang kita sayang? Bagaimana cara melawan kezaliman dan kemungkaran jika lisan tidak bisa menghentikannya? Semua pertanyaan itu sudah terjawab seiring dengan kepergian kapal itu menuju tanah suci.


Novel ini masih banyak kata katanya salah (typo) dan ada juga huruf ganda. Dan bahkan si awal cerita terlalu bertele tele sehingga membuat pembaca menjadi bosan.Banyak sekali istilah istilah dari Bahasa belanda sehingga membuat malas untuk melanjutkan cerita. Cover novel yang dibuat juga tidak terlalu menarik serta kurang pas dengan apa yang diceritkan pada isi buku

“Buku adalah teman yang berharga. Namun, sulit untuk menjelaskan hal itu kepada yang tak suka membaca.”

Selamat membaca.

Diulas oleh Triyatna Aulia Permana, 14 Maret 2023

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *