SATU HARI BERSAMAMU

Satu Hari Bersamamu karya Mitch Albom

Judul buku          : For One More Day (Satu Hari Bersamamu)

Penulis                : Mitch Albom

Penerbit              : Gramedia

Tahun terbit        : Cetakan ke-3 tahun 2012

Tebal halaman   : 245 halaman


Mitch Albom

Ini adalah kalimat pembuka novel yang berjudul Satu Hari Bersamamu, karya Mitch Albom. Novel yang membawa saya pada sebuah kata “PENASARAN” dan berhasil menyelesaikan membaca hanya dalam waktu dua hari saja. Meskipun pada kalimat itu disebutkan bahwa ini adalah cerita hantu, tetapi jangan kamu bayangkan akan ada adegan hantu muncul dari balik tembok atau adegan kesurupan masal. Lalu bagaimana “hantu” yang dimaksud dalam novel ini?


Novel terbitan Gramedia Pustaka ini sebetulnya berkisah tentang kasih sayang seorang ibu yang tak pernah putus juga tentang kesempatan kedua. Cerita diawali dengan prolog ketika Mitch Albom, sang penulis, menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Charles Benetto atau Chick, sang tokoh utama. Lalu Mitch berubah menuturkan ceritanya melalui sudut pandang orang pertama, katanya agar pembaca merasa bahwa cerita ini benar-benar nyata jika Chick Benetto sendiri yang menceritakannya.

Digambarkan kehidupan Chick Benetto penuh kegagalan, penyesalan, dan frustasi. Ia berniat bunuh diri karena teramat benci dengan hidupnya yang tidak berguna lagi. Namun, kesempatan kedua itu datang, bukannya mati, aksi bunuh dirinya itu justru membawa ia pada ibunya yang sudah lama meninggal dunia. Di rumah masa kecilnya, bersama hantu ibunya, Chick menemukan potongan-potongan puzzle yang selama ini menyisakan lubang di hatinya.

Diceritakan dengan alur campuran, justru membuat saya semakin penasaran terutama dengan endingnya. Bahasa yang digunakan juga sederhana, sama seperti novel Tuesday With Morrie karangannya yang pernah saya ulas. Meski sederhana, pesan dan emosi yang ingin disampaikan Mitch tertransfer dengan baik ke pembaca.

Banyak bagian cerita yang berjudul Saat-saat ibu membelaku  dan Saat-saat aku tidak membela ibu yang membuat saya menangis. Bagian-bagian Saat-saat aku tidak membela ibu  itu membuka mata saya bahwa sebagai seorang anak kita ini terlalu sering menyakiti ibu kita hanya karena kita menginginkan ia mengerti kita sepenuhnya. Hanya karena kita ingin ibu yang sempurna, kita mengabaikannya, menyalahkan segala yang ia lakukan, bahkan membuatnya merasa tidak berguna sebagai seorang ibu. Lewat novel ini saya sadar, dosa-dosa kepada ibu kita itulah yang justru membentuk lubang di hati seperti yang saya sebutkan tadi. Pada akhirnya ketika lubang itu makin membesar, dan ketika tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki segalanya, kita baru sadar bahwa ibu terlalu berharga dalam hidup kita. Seperti penyesalan Chick yang tidak bisa menemani saat-saat terakhir ibunya, alih-alih berada di sisi ibunya, momen terakhir yang mereka ukir adalah sebuah kebohongan dan bentakan.

Novel ini sangat bernilai, sejak kalimat awalnya saja sudah membuat penasaran, di tiap bagian bab banyak amanat yang bisa dipetik, di akhir juga ada kejutan yang menambah kesan positif.

Kalau di dalam buku ini ada kalimat “Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada?” Saya tidak mau memikirkannya, karena akan banyak hal yang ingin dan akan saya lakukan. Tapi daripada menghayal tentang “Keajaibannya Chick” saya rasa akan lebih baik jika kita pulang segera, peluk ibu kita, tanya apa yang ingin ia makan, punggung sebelah mana yang sakit dan habiskan satu hari ini bersamanya.

Diulas oleh Amelia Nazir, Maret 2023

NB:

Saya tambahkan kalimat ini di NB, supaya kalian lebih terngiang-ngiang.“Hitunglah jam-jam yang seharusnya bisa kauhabiskan bersama ibumu. Rentangannya sepanjang masa hidup itu sendiri.” – (hlm. 184)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *