Seperti hari-hari biasanya, setiap pagi Amin membawakan dagangan ibunya ke warung di depan Stasiun Juanda. Dengan sepeda kesayangan yang catnya sudah banyak mengelupas di sana-sini ia mengikat dua box putih di boncengan. Di dalam box putih bening itu tersusun rapi kue pastel, roti isi ayam, lontong dan beberapa jenis gorengan lainnya. Amin mengayuh sepedanya perlahan-lahan, selain karena takut kue-kue itu tumpah, ada sesuatu yang mengganggu kepalanya. Ia berhenti. Dipandanginya sebuah bangunan putih megah yang menjulang tinggi –yang sebetulnya setiap hari ia lihat–, matanya terfokus pada lidah api berwarna emas di atas bangungan itu. Monas. Ikon ibukota Jakarta.
“Masa sih kamu belum pernah ke atasnya Monas?” Amin teringat ucapan Tio, teman sebangkunya di kelas tiga.
Sebetulnya keinginan untuk mencapai pucuk monas itu sudah lama, tapi selalu saja ia lupakan, Ah, tidak penting. Tapi setelah teman-teman sekelas tahu Amin belum pernah ke atas monas, ia jadi malu. Hanya ia satu-satunya murid yang tidak mengangkat tangan ketika Bu Ida bertanya, “Siapa yang sudah pernah ke emasnya monas?”
Dulu pernah ia meminta pada Bapak, tapi jawabannya “Kalau kamu naik, adik-adikmu juga harus ikut Le, Bapak atau Ibu juga pasti ikut. Nanti kita kumpulkan uang dulu.” Amin tahu kondisi keuangan keluarganya semakin tidak baik sejak Bapak berhenti mengojek, mereka hanya mengandalkan dagangan kue dan minuman. Jadi wajar jika Bapak belum bisa mengabulkan permintaannya. Pernah juga Amin meminta izin untuk pergi sendiri, Bapaknya mengizinkan tapi Ibunya tidak, dianggapnya Amin masih terlalu kecil untuk pergi sendirian meskipun monas tidak terlalu jauh dari rumah dan warung.
Memintanya lagi hari ini juga tidak akan mungkin, musim liburan akhir tahun seperti ini biasanya warung lumayan ramai, sehingga warung harus selalu buka. Sayang kan kalau tutup padahal pembelinya banyak. Cita-cita sederhananya itu terpaksa harus ia urungkan lagi. Ia kembali mengayuh sepedanya menuju warung.
…………
“Amin… Ayo bangun! Mandi, pakai baju yang bagus! Kita mau jalan-jalan ke monas.” kata Bapak sambil membangunkan badan Amir yang masih tergeletak di kasur.
“Kemana, Pak?”
“Ke emasnya monas.”
“Lho kok Bapak tahu Amin pengen ke emasnya monas?”
“Lha iya, wong tiga hari ini kamu ngigo minta naik ke emas monas terus. Pusing Bapak dengernya.”
Amin nyengir lebar, mendengar perintah bapaknya, ia bangun dengan semangat. Hari ini ia akan ke tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Puncak Monas.
