RUMAH KECIL

Hujan masih turun deras ketika aku bangun dari tidurku pagi ini. Kulihat bapak sibuk mengelap air yang berceceran membasahi lantai, ibu juga sedang mengangkat ember-ember yang penuh lalu membuang airnya ke luar rumah. Mereka berdua tak tidur semalaman karena titik air terus masuk ke rumahku melalui robekan kecil di atap dan celah dinding. Aku tahu mereka lelah, tapi aku bisa apa? Bapak dan ibu hanya menyuruhku tidur saja, tak perlu membantu.

Mereka memang selalu begitu, mengambil alih semua persoalan yang sebenarnya hanya ingin sedikit kubantu. “Ini urusan bapak,” atau “Biar ibu saja,” kalimat itu hampir setiap hari kudengar, dan yang paling menyebalkan ketika di akhir kalimat mereka mengait-ngaitkannya dengan urusan belajar dan sekolah, seperti cuma itu saja yang boleh kulakukan. Contohnya semalam, aku tak bisa tidur karena hujan menggedor kasar seng di atap rumah, angin juga menyelinap paksa ke dalam selimut, terlebih ke pori-pori, dan air sudah menetes membasahi kasur. Ketika kuambil beberapa baskom untuk menadahinya, bapak berkata, “Sini bapak aja, kamu tidurnya pindah ke pojok yang gak bocor. Tidur, besok kan sekolah.”

“Ah, persetan dengan sekolah, aku tidak bisa tidur, aku benci. Aku benci tinggal di rumah bobrok yang bocor di sana-sini begini.” aku mengutuk dalam hati.

Rumahku sebenarnya lebih mirip kamar sempit yang patutnya dihuni satu orang, tapi kami tinggal berempat, bapak, ibu, aku dan adikku yang berumur tiga tahun. Rumah bobrok ini hanya terbuat dari kayu, triplek dan seng yang sudah jadi langganan bocor di hari hujan. Dengan penghasilan kecil di ibu kota yang besar, hanya tanah sepetak lah yang bisa bapak sewa, rumahnya ia bangun sendiri dengan pinjam ke kerabat. Kami sudah tinggal di sini sejak aku belum dilahirkan, artinya aku sudah miskin sejak lahir. Maka bagiku aneh sekali kalau mereka selalu ingin berbagi susah berdua saja, seolah aku tak boleh mencicipi pahit dan getir hidup sebagai orang miskin. Padahal aku miskin juga.

“Pak, pamit sekolah,” kucium tangan bapak dan ibu. Aku melenggang dengan payung di tangan kanan dan plastik besar berisi tas dan sepatu. Hujan masih turun deras sekali.
……

“Bon, cepetan lari. Rumah kamu kena angin.

Aku bergegas ambil langkah seribu, kubiarkan saja hujan membasahi seragam sekolahku, plastik besar yang berisi tas dan sepatu akhirnya basah juga.

Sejak pagi hujan angin tak berhenti, sekolah tak mengizinkan siswanya pulang karena berbahaya. Barulah ketika angin kencang berhenti, sekolah dibubarkan. Di depan gerbang orang-orang tua menjemput anaknya, tapi tidak ada bapak dan ibu. Perasaanku tak enak, rumah kecilku pasti sudah rusak diterpa angin, bagaimana jika rubuh dan menimpa keluargaku? Pikiranku buruk sekali, aku terus berlari.

“Bono…”

“Bapak?? Ibu sama Beni mana, Pak?”

“Di rumah Pakde Agus.”

“Rumah kita?”

“Atapnya kebawa angin”

Rumah kecil bobrokku benar-benar sudah bobrok sekarang, atap sengnya hanya sisa sedikit, sedang lubang dindingnya bertambah. Kini bukan hanya bocor, tapi air hujan bebas masuk tanpa penghalang. Dengan kondisi itu, kami terpaksa harus mengungsi di rumah Pakde Agus, tetangga terdekat.

Dari sekian rumah, hanya rumahku lah yang rusak. Jelas, karena memang sudah rusak sebelumnya. Sedih sekali rasanya. Rumah yang seharusnya jadi tempat penghuninya berlindung, ternyata tak bisa melindungi dirinya sendiri. Aku mengemasi baju-bajuku dan barang yang sekiranya bisa kami selamatkan.

“Semiskin apa pun kita, kamu harus sekolah yang tinggi, Bon, kecuali kamu mau tetap miskin sampai setua bapak dan bikin anakmu jadi miskin juga.”

Ah, tentang sekolah lagi. Tapi kali ini aku mencerna baik-baik kalimat bapak. Mungkin selama ini bapak dan ibu ingin aku tetap fokus sekolah, mereka tidak ingin kepahitan hidup itu mengganggu pikiranku, apalagi sampai membuat aku putus sekolah karena beban biaya. Biar mereka yang atasi semuanya.

Kupandangi rumah kecilku yang beratap setengah itu. Rumah itu jelek sekali, dan tak mungkin bisa kutinggali sampai bertahun-tahun lagi, ia semakin rapuh, sekarang pun hampir rubuh. Rumahku itu sempit sekali, dan badanku tumbuh besar seiring waktu sedangkan ia tidak. Aku harus mengubahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *