PAWAI OBOR

Terbit: Jakarta, Malam Takbiran 2019


1999, tiga hari menjelang 1 Ramadan

Setelah berkutat berjam-jam dengan mesin jahitnya, Bu Tuti tersenyum puas. Ia membentangkan setelan baju koko putih hasil karyanya pada anak bungsunya yang sedari tadi hanya duduk di depan TV.

“Nas, nanti malam ada kirab obor, kamu ikut ya. Pakai baju baru. Temen-temen kamu juga ikut,” kata Bu Tuti kemudian disusul anggukan malas si Anas. “Mudah-mudahan nanti malam hujan,” batin Anas.

Berbeda dengan ibu-ibu yang lainnya, Bu Tuti sangat ingin Anas bermain di luar dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman, bukannya duduk sepanjang hari di dalam rumah. Maka dari itulah setiap ada acara seperti ini -baik di rumah maupun di sekolah- ia pasti menyuruh Anas untuk ikut serta.

Namun sepertinya langit juga malas mengabulkan permohonan Anas, malam itu sama sekali tidak berawan, malahan bintang-bintang bertaburan dengan cantik. Terpaksa Anas bergabung dengan anak-anak lainnya, meramaikan pawai obor.

Suasana kampung dipenuhi kegembiraan, lantunan sholawat dan cahaya-cahaya obor menambah cerah setiap jalan, gang dan sudut rumah. Di antara pasukan obor, anak-anak SD lah yang paling girang, mereka semua teman-teman sekelas Anas di kelas tiga, mereka berbaris di bagian belakang, melompat-lompat dan menggoyangkan obor ke kanan-kiri, bahkan mengayunkannya seperti sedang mengibarkan bendera. Anas hanya menggeleng-geleng, itu lah yang membuatnya malas ke luar rumah, menurut dia semua temannya nakal.

“Mending nonton TV deh kalau gini,” pikir Anas.

Berkali-kali diingatkan untuk hati-hati, mereka mengganguk saja, tapi bukan bocah namanya kalau tidak berulah. Ditengah-tengah pawai, ketika melewati kebon kelapa, anak-anak SD itu iseng mengayunkan obornya ke pohon kelapa kering yang daunnya menjuntai hampir ke tanah. Brrrr…. Api obor dengan cepat merambati batang kelapa yang sudah kering dan mati itu hingga seluruhnya menyala merah.

“Astaghfirullaaahhh….” teriak warga kampung di barisan depan. Ibu-ibu yang tadinya berkumpul di barisannya tiba-tiba berhamburan mencari anaknya di sekitar pohon yang terbakar.

“Anas… Anasss…” Bu Tuti berlari sambil teriak-teriak.

Anas kaget mendengar teriakan ibunya, tanpa sadar obor yang dipegangnya juga ikut jatuh. Terperciklah api baru.


Idul Fitri 2019

“Dulu, zaman bapak kecil, di sini pernah ada tragedi lucu yang bikin geger satu kampung,” kata seorang Bapak kepada dua anaknya, Anis dan Azhar.

“Kenapa geger tapi lucu, Pak?”

“Karena bapak kamu dan teman-temannya membakar kebon kepala. Di sini dulu tempatnya,” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul dari belakang.

Kedua lelaki itu tertawa dan saling merangkul pundak. Sudah lama mereka tak bersua, terlebih setelah dewasa masing-masing menjalani hidupnya di perantauan dan kembali ke kampung itu hanya ketika Idul Fitri tiba. Lelaki yang baru muncul adalah anak SD yang pertama kali menyulut api ke dahan kelapa kering. Sedang yang satunya lagi adalah Anas, anak rumahan culun yang terkejut oleh teriakan ibunya lalu melepaskan obor sehingga tak sengaja ikut membakar dahan kering dan celana putih yang baru dijahit ibunya. “Apa kabar, Nas? Celana buatan ibumu lagi nih? Jangan kau bakar ya!” kata lelaki itu bernostalgia.

Mereka melintasi gang-gang sempit menuju Masjid Ar-Rayyan, tempat melaksanakan solat Idul Fitri. Dua puluh tahun berlalu, kebon kelapa yang dulu terbakar itu kini sudah jadi permukiman padat. Kampung boleh berubah tapi kenangan masa kecil mereka tetap sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *