Terbit: Jakarta, 4 November 2019
Aku tak tahu alasan apa yang membuat kesedihan itu tak lepas dari sudut matanya. Karena ia baru saja kalah telak dari lawan dan dipermalukan atau karena terlalu takut jadi tumpahan amarah teman-teman tim dan pelatih. Entahlah. Padahal menurutku yang namanya pertandingan pasti ada menang dan kalah, apalagi ini pertandingan per tim, kesalahan ya ditanggung seluruh anggota tim dong. Tak perlu menyalahkan diri sendiri apalagi sampai diam menunduk di pinggir rawa begini.
Sejak pertandingan usai dia sudah memisahkan diri dari teman-temannya dan pamit pulang duluan. Dia terus berjalan lurus mengikuti jalan kecil yang semakin lama semakin sempit karena diapit pohon dan semak. “Aku tak mau pulang,” katanya tiba-tiba. “Ya ampuuunn,” umpatku dalam hati. Alih-alih pulang dia malah memilih duduk diam di atas batu besar ini. Di pinggir rawa, di muka hutan, waktu cahaya matahari sudah hampir padam.
Sebenarnya kami bukan teman dekat, hanya teman satu dusun yang seusia. Aku sering bertemu dengannya di tepi sungai saat mencari udang dan kepiting kecil. Dia memohon padaku untuk mengantarnya ke pertandingan sepak bola di sekolah seberang itu karena aku keceplosan bilang tau jalan pintas menuju ke sana.
Gusman, teman dadakanku itu, awalnya tak ada di daftar pemain. Meski tergolong brilian sebagai penyerang, sepulang sekolah ia masih harus mengantar adiknya yang pengkor pulang ke rumah. Ia akan berjalan pelan-pelan sepanjang dua setengah kilo sambil menggendong adiknya di belakang dan menenteng dua buah tas.
Sehari sebelumnya ia memohon pada pelatihnya untuk tetap ikut pertandingan.
“Kalau kau ikut, kami harus menunggu kau pulang ke rumah dulu? Lalu kita mulai tanding jam berapa? Kau ikut lain kali aja lah.”
“Kalau saya sampai di sana tepat waktu, apa saya boleh ikut? Tolonglah, ini penting buatku,” katanya sedikit memaksa.
Usahanya berhasil. Pelatihnya mengamini syarat itu. Namun, sayangnya pertandingan hari ini tidak berjalan baik. Gusman terlalu lelah menempuh jarak jauh; sekolah-rumah-pertandingan. Tiba di lapangan hanya sedikit tenaga yang tersisa, permainannya loyo dan arah tendangannya mudah ditebak. Jadilah kesedihan itu terus melingkupinya sampai kini.
“Kau tau siapa anak yang paling disayang di keluargaku, Ton?” setelah lebih setengah jam akhirnya dia buka suara.
“Menang berapa saudaramu?”
“Lima. Aku yang ketiga.
“Oh. Entahlah, mana bisa kutahu?
“Adikku yang pengkor itu,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena dia tak mungkin jadi pemain sepak bola.”
“Tak paham aku, Gus. Kau kan lebih sehat. Apa salahnya?
Tiba-tiba ia tertawa cekikian. Aku terbelalak. Ah, gila. Jangan-jangan dia kesurupan. Di tempat sepi begini, di pinggir hutan, harus apa aku kalau dia kesurupan setan. Aku sudah siap-siap ambil sandal dan kabur.
“Justru itulah salahnya, Ton.”
Dia menoleh kepadaku; nyengir lebar tapi matanya tak merah. Ah, syukurlah dia masih waras. Tapi hei tunggu, dia tertawa. Apa artinya dia sudah tidak sedih lagi? Ketidak dekatan kami membuatku hanya bisa menebak-nebak. Aku benci situasi ini. Seandainya boleh, aku sudah meninggalkannya sedari tadi, biar saja si galau ini diterkam macan atau digigit ular.
Hari sempurna gelap, matahari sudah genap tenggelam sejak tadi. Jangkrik-jangkrik dan binatang malam mulai berorkestra ria. Hampir dua jam sudah kami duduk di tepi rawa ini.
“Bapakku benci anak-anaknya jadi pemain sepak bola. Pernah dia cerita, dia berdoa waktu mamakku hamil dulu. Dia bilang lebih baik anaknya pengkor daripada jadi pemain bola.”
“Aih, gila juga bapak kau?!”
“Ya begitulah. Aku bisa dicambuk sepuluh kali kalau ketahuan main bola,” katanya sambil cekikikan lagi, “pokoknya dia benci sama orang-orang yang suka main sepak bola. Mungkin dia juga akan benci kau, Ton, Hahaha.”
Aku hanya menelan ludah. Cambuk sepuluh kali. Apa salahku? Si Gusman terus bercerita tentang bapaknya, tentang berapa cambukan yang sudah pernah ia terima dan menunjukkan dimana saja bekasnya. Ia bilang ia benci bapaknya. Salah satu alasan ia nekat ikut pertandingan sore tadi adalah karena ia ingin pergi dari bapaknya. Pelatihnya berjanji akan mengajaknya audisi sekolah sepak bola di kota kalau ia bisa membuktikan dirinya di pertandingan itu. Di kota ia akan mendapat beasiswa sekaligus fasilitas asrama gratis, yang artinya dia bisa tinggal di sana dan bermain sepak bola sampai puas tanpa harus sembunyi-sembunyi. Dia sudah cinta mati pada si kulit bundar itu.
Dia terus berceloteh sampai-sampai kami lupa hari semakin malam dan suasana di sana semakin mengerikan, hingga suara “grusuk-grusuk” menghentikan obrolan kami. Dan dari belakang pohon besar muncul beberapa orang lelaki berbadan besar pula. Ada yang memegang parang, ada yang bersenapan.
“Ya Tuhan, Gusmaaan.!!”
Yang dipanggil justru melompat dari duduknya. Dia semakin takut ketika tahu yang membawa senapan itu adalah bapaknya. Hampir saja ia tercebur ke rawa. Kalau iya, jelek betul nasibnya seharian ini.
“Kemana saja kau, Nak. Mamak kau pusing mencari kau. Dipikirnya kau di ladang petik jagung. Ditunggunya sampai maghrib tak pulang-pulang juga. Untunglah bapak ketemu bapaknya si Anton,” katanya sambil memeluk anaknya yang tidak pengkor itu, “untunglah kau tak sampai dimakan babi hutan. Bodoh betul kau ini, anakku.”
“Sa.. saaya.. habis main bola, Pak.”
“Mau main bola, main tenis, main apa kek, kemana pun kau main yang penting izin sama mamak kau, Nak. Anak bodohku. Untunglah…” bapak itu masih memeluk Gusman. Pelukannya penuh syukur dan kasih sayang. Sebenci apapun ia dengan sepak bola, rasa khawatirnya lebih besar ketika anaknya tak kunjung pulang, dan syukurnya tetap lebih banyak waktu melihat anaknya baik-baik saja.
Aku tak habis pikir melihat temanku itu, beberapa saat lalu sedihnya bukan main sampai tak mau pulang, sekarang pun senangnya bukan main sampai tak mau berhenti senyum. Mungkin dalam pikirannya “Baguslah cuma dikatai bodoh” atau “Besok-besok berulah macam ini sajalah, jadi bisa main sepak bola tanpa dicambuk.” Gusman terus nyengir sampai tiba di depan perkampungan, tinggal aku yang menunggu mulut bapakku terbuka. Jangan-jangan giliran aku yang dicambuknya. Alamaakkk!!!
